Senin, 01 April 2013

Teori Sosial Machiavelli



A.    Karya-Karya Machiavelli
Berbicara tentang karya-karya Machiavelli sebagai seorang diplomat, perencana, dan teoritikus militer, ahli pikir, sarjana, sastrawan dan penyair bukanlah hal yang mudah. Banyak sarjana yang menganggap Machiavelli sebagai tokoh yang kontroversional. Pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangannya sering dianggap tidak konsisten. Tetapi banyak juga sarjana yang memberikan pujian terhadap karya-karya besar dan hebat yang telah dihasilkan oleh Machiavelli.
Di bidang diplomasi, Machiavelli telah melaksanakan misi-misi diplomatiknya ke luar negeri sekitar tiga puluh kali. Laporan-laporan tugas yang dibuat oleh Machiavelli secara mendetail, mununjukkan kecerdasan dan kecermatannya dalam pengamat selaku seorang diplomat. Ia juga begitu cepat dan tepat untuk menentukan pusat kekuatan dalam setiap situasi politik yang dihadapi atau yang diamatinya.
Karya yang paling cemerlang di dalam masa jabatannya selama empat belas tahun menjadi seorang pejabat Republik Florence ialah di bidang militer. Selama itu Republik Florence belum pernah memiliki tentara sendiri, sedangkan untuk pertahanan dan keamanan, di bayarkan tentara sewaan yang sedia berperang karena upah bagi siapa pun yang menyewa mereka. Pada saat Machiavelli diutus ke Perancis, ia terkejut melihat sikap orang-orang Perancis yang mencemooh negeri yang dicintai dengan sebutan Ser Nihilo(Tuan nihil), oleh karena negeri yang dicintainya tidak memiliki tentara sendiri. Selain itu Machiavelli sangat tau persis tentang peristiwa Vitelli. Paolo Vitelli merupakan seorang pemimpin tentara bayaran yang sangat terkenal dan selalu menuntut bayaran yang sangat besar. Ketika itu Republik Florence menyewanya dengan bayaran yang besar untuk misi merebut negeri Pisa, karena Pisa sudah pasti dapat direbut oleh Vitelli, namun Vitelli menghentikan serangannya terhadap Pisa, karena Pisa membayarnya lebih mahal dibandingkan oleh Pemerintah Republik Florence. Peristiwa Vitelli ini membuka mata Machiavelli untuk membentuk tentara sendiri, setelah terbentuk tentara sendiri, Machiavelli di percaya sebagai Penanggung jawab misi perebutan Pisa kembali. Ia sendiri turun langsung memimpin serangan ke Pisa dan pada tahun 1509 Pisa dapat direbut dan inilah salah satu karya nyata Machiavelli di bidang Militer.
Setelah Machiavelli dibebas tugaskan dari jabatan-jabatannya, mengisi hidupnya dengan tulis-menulis, hasil karya tulisnya tidak terlalu banyak namun memiliki daya tarik tersendiri. Dia menulis sajak-sajak apabila di kumpulkan akan menjadi sebuah buku sangat tebal. Dia juga menulis drama dan yang paling terkanal ialah Mandragola, dan beberapa cerita pendek. Di bidang militer ia menulis The Art of War (Seni Perang). Buku seni perang itu banyak dijiplak dan begitu populer hingga abad XVI. Dan atas permintaan pemerintah, ia pun menulis tentang History of Florence (sejarah Florence). Dua karya tulisnya di bidang filsafat politik yang sangat terkenal sampai dengan sekarang ini adalah Discorsi (Percakapan) dan Il Prince (Pangeran) yang menjadi dasar pembahasan filsafat politik Machiavelli.
Dunia mengakui karya-karyanya yang agung, yang berarti pula dunia mengakui keagungan nama Machiavelli. Oleh sebab itu cukup pantas apabila pada tahun 1869, Italia merayakan hari ulang tahun Machiavelli yang ke-400 sebagai perayaan nasional. Dan cukup pantas juga piagam peringatan yang diletakkan oleh warga kota Florence di atas makamnya yang bertuliskan: Tanto Nomini Nullum par Elogium (Begitu agung sebuah nama sehingga tak satu pujian pun yang memadai baginya).

B.     Teori yang dihasilkan oleh Machiavelli
Seluruh pemikiran politik Machiavelli sebenarnya bermuara kekeselamatan, kebebasan, kedaulatan dan kejayaan negara. Machiavelli berpendapat bahwa negara dan kepentingan negara harus memperoleh tempat yang khusus dalam pemikiran, perilaku dan tindakan para penguasa. Menurut Machiavelli, bagi Italia yang sedang dilanda oleh desintegrasi politik, dekadensi di bidang politik, kesusilaan dan moralitas, sesungguhnya membutuhkan suatu tindakan yang darurat. Dan tindakan yang paling tepat ialah menstabilkan kekuasaan (yang pada saat itu memang tidak stabil) agar dapat melayani kepentingan negara dan demi keselamatan, kebebasan, kedaulatan dan kejayaan negara.
Dalam situasi sebagaimana yang dialami Italia pada masa itu, berbagai teori politik tradisional tentang penguasa dan kekuasaan harus diubah. Pada penguasa harus terampil dan cerdik dalam menggunakan kekuasaan. Untuk itu ia mengacu kepada kekaisaran Romawi Kuno yang berjaya oleh karena para penguasanya yang terampil dan cerdik dalam menggunakan kekuasaan.
Keterampilan dan kecerdikan menggunakan kekuasaan itu bertujuan untuk mempertahankan seluruh kepentingan negara. Dan segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan demi kepentingan negara haruslah dibebaskan dari pertimbangan dan kepentingan lainnya. Tegasnya, pengguanaan kekuasaan politik harus disterilkan dari nilai-nilai etis, religius, dan kultural. Machiavelli berpendapat bahwa kekuasaan politik harus benar-benar dipisahkan dari etika, religi dan kultur.
Bagi Machiavelli, sang penguasa harus bertekad hanya menganut sistem nilai politik yang semata-mata tertuju bagi kepentingan negara, sedangkan sistem nilai-sistem nilai lainnya harus diabaikan. Dengan demikian, Machiavelli membangun suatu Teori politik yang dikenal dengan istilah “Kepentingan Negara” (reason of state atau staatstraison)
Dalam teori “Kepentingan Negara” Machiavelli, seluruh tindakan dan perbuatan yang bersifat kriminal, amoral, licik, jahat, dan kejam yang dilakukan para penguasa dapat dibenarkan. Itu tidak berarti bahwa Machiavelli mengesampingkan sama sekali atau yang tidak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Machiavelli hanya bermaksud hendak menunjukkan bahwa pemisahan politik dari etika menempatkan kedua-duanya menjadi independen, madiri, dan tidak langsung bergantung.
Dengan memisahkan politik dari etika, jelas terlihat bahwa Machiavelli telah membuat politik menjadi sautu sistem nilai yang otonom, mandiri serta bebas dari sistem yang lain. Dan apabila Machiavelli memisahkan etika dari politik, itu pun tidak berarti bahwa Machiavelli bersikap acuh tak acuh terhadap etika dan moralitas. Persetujuannya terhadap tindakan dan perbuatan para penguasa yang bersifat kriminal, amoral, licik dan jahat itu hanyalah dapat dibenarkan dalam keadaan darurat, dan demi kepentingan negara semata-mata. Kejahatan tidak boleh menjadi tujuan dari segala tindakan dan perbuatan para penguasa.
Machiavelli pun mengakui san sangat yakin bahwa dekadensi moral dan erosi nilai-nilai etis suatu bangsa tidak akan memungkinkan kelanggengan negaranya. Machiavelli juga mengagumi nilai-nilai etis mayarakat Romawi kuno yang tampak lewat kebebasan, kekuatan pribadi baik fisik maupun mental, kesederhanaan, ketaatan, kesetiaan, kesungguhan dalam melakasanakan tugas, kesatriaan, ketulusan, kejujuran dan sebagainya. Jika Machiavelli menganjurkan para penguasa agar dapat berbuat seperti manusia ataupun binatang, itu tidak berarti bahwa para penguasa tidak lagi memiliki suatu ukuran moralitas tertentu. Etika memang harus dipisahkan dari politik, namun para penguasa harus tetap memiliki ukuran moralitas tertentu. Tetapi yang jelas adalah bahwa para penguasa harus memiliki ukuran moralitas yang berbeda dengan yang dimiliki oleh rakyatnya, karena para penguasa dapat berperan ssebagai manusia ataupun sebagai bintang, sedangkan rakyatnya tidak demikian.

C. Bagan Tentang Teori Sosial Machiavelli













D.   Penjelasan Tentang Teori
1.      Kepentingan Negara
a). “Seluruh tindakan dan perbuatan yang bersifat kriminal, amoral, licik, jahat, dan kejam yang dilakukan para penguasa dapat di benarkan”.
Maksudnya adalah segala sesuatu yang di lakukan seseorang dengan tindakan untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan yang di inginkan oleh orang tersebut.
2.      Militer (Kekuasaan)
b). “Sungguh sangat berbahaya dalam menggunakan tentara sewaan bagi suatu negara yang belum memiliki tentara sendiri”.
Maksudnya adalah ketika negara yang dicintai Machiavelli belum memiliki tentara sendiri, lalu pemerintahnya menyewa sekelompok tentara sewaan dalam misi merebut kota Pisa, namun ketika tentara sewaan ini hampir merebut kota Pisa, tiba-tiba serangan di hentikan oleh jendral Vitelli karena di sebabkan orang-orang Pisa membayar sekelompok tentara ini dengan bayaran yang lebih besar dari bayaran pemerintah Florence. Akibat kejadian yang di kenal dengan peristiwa Vitelli ini, Machiavelli berpikir bahwa sangat berbahaya dalam menggunakan tentara sewaan karena suatu saat mereka akan berkhianat kepada kita di akibatkan oleh harta.
3.      Mempertahankan kekuasaan
c). “Untuk mempertahankan kekuasaan di negara yang sebangsa dan sebahasa cukup dengan memusnahkan seluruh keluarga penguasa yang sebelumnya memerintah di negara itu”.
Maksudnya adalah ketika seorang pemimpin yang baru berkuasa di suatu negara agar pemerintahan yang akan di jalankannya tidak mendapatkan gangguan dari pihak-pihak yang akan menjatuhkannya di tampuk kekuasaan maka pemimpin tersebut harus melakukan sebuah cara atau bisa di anggap sebagai menghalalkan segala cara agar ia tidak mendapatkan gangguan tersebut, cara tersebut bisa dengan cara memusnahkan seluruh keluarga dari penguasa sebelumnya.

E.  Konsep Kunci
1)      Kepentingan negara
2)      Mengahalalkan segala cara
3)      Tentara Sewaan = “NO”, Tentara sendiri = “YES”


JejakKaki.com: Teori Sosial Machiavelli

Tidak ada komentar: